Rabu, 16 Desember 2009

Bundha "Penerang Hidupku"

OHHhhh Bunda kau ada dan tiada disini
Kau selalu ada di dalam hatiku....


Itulah sepenggalan lagu dari Melly Goeslow yang mengingatkanku pada Bundaq,mengingatkanku pada sesosok orang yang sangat berjasa di hidupku.Ya...sosok itu adalah bundaku.Tepatnya pada 16 tahun yang lalu.Lahirlah bayi perempuan yang lucu dan mungil.Saat itu tampak sekali senyum bahagia dari ibuku karena aku terlahir dengan normal layaknya bayi-bayi yang lain.
Hari demi hari ku jalani bersama bundaku dan senyumnya yang khas yang selalu membuat hari-hariku lebih berwarna dalam menjalani hidup ini hingga aku tumbuh dewasa seperti sekarang ini.Namun,aku baru menyadari sesuatu hal bahwa aku terkadang selalu membuat ibuku marah,jengkel kepadaku bahkan aku telah membuat kecewa bundaku,cerita itu ketika aku dan teteh pergi ke kostnya mas vang untuk sekedar bersenda gurau dan maen gitar yang tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.30wib.Sesampai di rumah aku di marahi habis-habisan dengan bundaku,hingga tak terasa aku menitikkan air mataku.Sontak aku malu pada diriku sendiri.Aku merenungi sikapku yang keluar dari batas kendala.Di tengah keheningan malam aku menyadari bahwa betapa ibuku mengkhawatirkan diriku.Cari situlah aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari ibuku,bahwa ibuku sangat sayang sekali sama aku.Dan pernah juga aku sesekali menggoda ibuku dengan memanggilnya "moom'. Bundaku sebenarnya marah sih tapi melihat ekspresi wajahku yang cengar-cengir ibuku tak tega memarahiku.Kalau teringat kenangan itu rasanya aku ingin kembali lagi ke masa lalu.Teringat kembali kenangat saat umurku kira-kira 7 tahunan.Pada saat itu aku,kakakku dan temannya kakakku pergi ke pekan raya di depan rumahku.Saat itu aku bermain sendiri dan tidak menggubris omongan kakakku.SO,Aku hilang deh.Pada saat itu aku menangis sekencang-kencangnya.maklum kan masiyh kecil.hohoho...tapi alhamdulillah,aku menemukan jalan kelurnya.Saat tiba di depan rumah aku langsung memeluk bundaku.wah..so sweet ya.!!!
Ibu engkau adalah pahlawan hidupku
Ibu engkau laksana samudra luas yang mengaliri hatiku yang semula kering kerontang.Engkau adalah semangat dalam hidupku.Rasanya aku tak sanggup menopang tubuhku tanpa engkau ibu.Dalam suka maupun duka kau selalu menghiasi hidupku.
Ibu,hadirmu adalah laksana penerang dalam hidupku yang menerangiku di kala aku sedang berada di kegelapan malam.Hidupku terasa sangat sempurna ketika tuhan mengirimkan kau di bumi.
Ibu engkau adalah anugrah terindah dalam hidupku,Kau adalah malaikat yang di kirim tuhan untukku.

Thank'z mom.^_^

Kamis, 03 Desember 2009

hari yg melelahkan

hari nie,kamis/03/12/09.
wah...banyak banget tugas numpuk ndk skul.apalagi pas waktu pel.nya pak heli...
wuihh...sangat menjenuhkan banget.satu menit terasa satu taon.pokoke benar hari yang sangat melelahkan,,,belum lagi tugas mtk yang minta ampun susahnya yang boat penderitaanku lengkap sudah...hehehe....!!!

Selasa, 01 Desember 2009

u/

Ku menangis melepaskan
Kepergian dirimu dari sisi hidupku....

itulah sepenggal lagunya rossa yang mengingatkanku pada abangku.abang yang selaluy menemaniku,selalu mensupport aku saat aku sedang drop,n tenyunya memberikan warna dalam hidupku.
Namun,sekarang abangku telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.baru kali ini aku benar2 merasa kehilangan seseorang yang sangat berharga di hidupku.
Dulu,aku teringat saat kau mengajakku ke kolam renang(kan gw gak bsa renang.hehehe)tp gak ada motor yang nganggur ndk kost.so,ditunda de touringnya ndk taman tirta.n aku juga ingat ketika ketika kau mengajak aku ln tega ke pakuwan untuk syukuran.
Tapi,semuanya hanyalah kenangan belaka,kenangan yang ....
SELAMAT JALAN ABANG..
Aku akan selalu mendoakanmu semoga kau tenang di sana n semoga tuhan selalu melindungimu.....
^n^

Rabu, 25 November 2009

Guruku Pahlawanku

KAU YANG KU BANGGAKAN

Terima kasihku ku ucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti

Dia yang tahu banyak dibandingkan aku. Tanpa mengharap jasa sedikitpun, dia memberikan apa yang dia tahu untukku. Dia yang lebih mengerti dunia dibandingkan aku. Tanpa pernah merasa bosan, dia membuatku lebih mengerti apa yang belum dia mengerti. Dan memang itu yang diharapkannya. Membuatku lebih tahu dan lebih mengerti apapun yang belum dan yang tidak sama sekali dia mengerti.

Sering aku tidak menyadari atau mungkin tidak ingin tahu, betapa sakitnya dia dan betapa terlukanya dia di saat apa yang keluar lewat perkataannya tidak aku hiraukan, tidak aku perhatikan, dan aku acuhkan begitu saja. Sering perasaan ini tidak bisa merasakan begitu bahagianya dia ketika dia berhasil membuatku mengerti ketika dia menjelaskan tentang hal baru kepadaku. Tentang sesuatu yang sebelumnya tidak aku ketahui. Dia tidak berharap aku mendapat nilai baik dan peringkat tinggi, tapi dia hanya berharap aku mampu ketika orang lain tidak mampu dan butuh penjelasanku tentang apa yang aku tahu sementara orang lain tidak tahu.
Dialah yang menganggapku penting walaupun aku hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang guru yang memang seharusnya mengajar muridnya. Dialah yang menganggapku hebat meskipun aku masih memperlihatkan banyak ketidak mampuan. Setiap hari dia datang tanpa menyiratkan sedikitpun penyesalan hanya untuk membuatku menjadi lebih baik dari kemarin bahkan dari beberapa waktu yang lalu. Dan dia tidak pernah membenciku jika aku tidak memberikan hasil memuaskan untuknya.
Dia tulus. Tulus untuk tidak memendam dunia sendirian. Tulus untuk membagikan sebagian kehebatannya untukku. Dia pun tidak akan pernah merasa iri ataupun rendah hati ketika aku bisa lebih tahu dan lebih hebat dibandingkan dia. Dia adalah guruku. Pahlawan yang memberikan penerangan abadi seumur hidupku. Dan aku yakin, apa yang telah dia bagi untukku akan membawa manfaat dan kebaikan sampai aku mati nanti.
Apa yang pantas aku persembahkan untuk semua jasanya ? apa yang pantas aku banggakan untuknya ? sementara tidak banyak senyuman yang aku ukir untuk wajahnya. Tidak banyak tepukan tangan bangga darinya. Aku malu. Malu karena aku belum bisa menjadi lebih baik untuknya. Aku takut. Takut seandainya aku gagal membuatnya tidak menyesal telah menjadi guruku. Padahal jasanya sudah terlanjur benar-benar dia ukir dalam-dalam di hatiku.
Orang lain boleh menyebutnya pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi di hatiku, akan aku ukir seribu jasa untuknya yang begitu berjasa bagi kehidupanku. Akan aku hadiahkan satu kebanggaan baginya yang akan membuatnya selalu mengingatku. Orang lain boleh menyebutnya seorang pekerja biasa. Tapi bagiku, dia lebih dari sekedar seorang presiden. Akan aku buat dia merasa lebih tinggi dari presiden, dengan keberhasilanku.
Guruku, hanya terima kasih yang bisa aku persembahkan untukmu. Terima kasih karena engkau telah bersedia memperbaiki ketidak mampuanku. Terima kasih karena engkau telah mengiringi jalanku. Jika nanti aku menjadi orang berhasil, akan ku buat engkau menjadi orang yang paling bangga atas keberhasilanku.
Tuhanku, jagalah guruku. Lindungilah dia. Tanpanya, tidak akan mungkin ada orang-orang besar di negeriku ini. Tidak akan mungkin ada orang-orang penting di negeriku ini. Dan aku akan menjadi orang besar untuknya.

Guruku Pahlawanku

KAU YANG KU BANGGAKAN
Terima kasihku ku ucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti

Dia yang tahu banyak dibandingkan aku. Tanpa mengharap jasa sedikitpun, dia memberikan apa yang dia tahu untukku. Dia yang lebih mengerti dunia dibandingkan aku. Tanpa pernah merasa bosan, dia membuatku lebih mengerti apa yang belum dia mengerti. Dan memang itu yang diharapkannya. Membuatku lebih tahu dan lebih mengerti apapun yang belum dan yang tidak sama sekali dia mengerti.

Sering aku tidak menyadari atau mungkin tidak ingin tahu, betapa sakitnya dia dan betapa terlukanya dia di saat apa yang keluar lewat perkataannya tidak aku hiraukan, tidak aku perhatikan, dan aku acuhkan begitu saja. Sering perasaan ini tidak bisa merasakan begitu bahagianya dia ketika dia berhasil membuatku mengerti ketika dia menjelaskan tentang hal baru kepadaku. Tentang sesuatu yang sebelumnya tidak aku ketahui. Dia tidak berharap aku mendapat nilai baik dan peringkat tinggi, tapi dia hanya berharap aku mampu ketika orang lain tidak mampu dan butuh penjelasanku tentang apa yang aku tahu sementara orang lain tidak tahu.
Dialah yang menganggapku penting walaupun aku hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang guru yang memang seharusnya mengajar muridnya. Dialah yang menganggapku hebat meskipun aku masih memperlihatkan banyak ketidak mampuan. Setiap hari dia datang tanpa menyiratkan sedikitpun penyesalan hanya untuk membuatku menjadi lebih baik dari kemarin bahkan dari beberapa waktu yang lalu. Dan dia tidak pernah membenciku jika aku tidak memberikan hasil memuaskan untuknya.
Dia tulus. Tulus untuk tidak memendam dunia sendirian. Tulus untuk membagikan sebagian kehebatannya untukku. Dia pun tidak akan pernah merasa iri ataupun rendah hati ketika aku bisa lebih tahu dan lebih hebat dibandingkan dia. Dia adalah guruku. Pahlawan yang memberikan penerangan abadi seumur hidupku. Dan aku yakin, apa yang telah dia bagi untukku akan membawa manfaat dan kebaikan sampai aku mati nanti.
Apa yang pantas aku persembahkan untuk semua jasanya ? apa yang pantas aku banggakan untuknya ? sementara tidak banyak senyuman yang aku ukir untuk wajahnya. Tidak banyak tepukan tangan bangga darinya. Aku malu. Malu karena aku belum bisa menjadi lebih baik untuknya. Aku takut. Takut seandainya aku gagal membuatnya tidak menyesal telah menjadi guruku. Padahal jasanya sudah terlanjur benar-benar dia ukir dalam-dalam di hatiku.
Orang lain boleh menyebutnya pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi di hatiku, akan aku ukir seribu jasa untuknya yang begitu berjasa bagi kehidupanku. Akan aku hadiahkan satu kebanggaan baginya yang akan membuatnya selalu mengingatku. Orang lain boleh menyebutnya seorang pekerja biasa. Tapi bagiku, dia lebih dari sekedar seorang presiden. Akan aku buat dia merasa lebih tinggi dari presiden, dengan keberhasilanku.
Guruku, hanya terima kasih yang bisa aku persembahkan untukmu. Terima kasih karena engkau telah bersedia memperbaiki ketidak mampuanku. Terima kasih karena engkau telah mengiringi jalanku. Jika nanti aku menjadi orang berhasil, akan ku buat engkau menjadi orang yang paling bangga atas keberhasilanku.
Tuhanku, jagalah guruku. Lindungilah dia. Tanpanya, tidak akan mungkin ada orang-orang besar di negeriku ini. Tidak akan mungkin ada orang-orang penting di negeriku ini. Dan aku akan menjadi orang besar untuknya.

Selasa, 17 November 2009

remidi mtk harus berusaha agi agar gk malu2in...
hahaha....

Sabtu, 07 November 2009

malam minggu yang membosankan....
hehehe