Rabu, 25 November 2009

Guruku Pahlawanku

KAU YANG KU BANGGAKAN

Terima kasihku ku ucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti

Dia yang tahu banyak dibandingkan aku. Tanpa mengharap jasa sedikitpun, dia memberikan apa yang dia tahu untukku. Dia yang lebih mengerti dunia dibandingkan aku. Tanpa pernah merasa bosan, dia membuatku lebih mengerti apa yang belum dia mengerti. Dan memang itu yang diharapkannya. Membuatku lebih tahu dan lebih mengerti apapun yang belum dan yang tidak sama sekali dia mengerti.

Sering aku tidak menyadari atau mungkin tidak ingin tahu, betapa sakitnya dia dan betapa terlukanya dia di saat apa yang keluar lewat perkataannya tidak aku hiraukan, tidak aku perhatikan, dan aku acuhkan begitu saja. Sering perasaan ini tidak bisa merasakan begitu bahagianya dia ketika dia berhasil membuatku mengerti ketika dia menjelaskan tentang hal baru kepadaku. Tentang sesuatu yang sebelumnya tidak aku ketahui. Dia tidak berharap aku mendapat nilai baik dan peringkat tinggi, tapi dia hanya berharap aku mampu ketika orang lain tidak mampu dan butuh penjelasanku tentang apa yang aku tahu sementara orang lain tidak tahu.
Dialah yang menganggapku penting walaupun aku hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang guru yang memang seharusnya mengajar muridnya. Dialah yang menganggapku hebat meskipun aku masih memperlihatkan banyak ketidak mampuan. Setiap hari dia datang tanpa menyiratkan sedikitpun penyesalan hanya untuk membuatku menjadi lebih baik dari kemarin bahkan dari beberapa waktu yang lalu. Dan dia tidak pernah membenciku jika aku tidak memberikan hasil memuaskan untuknya.
Dia tulus. Tulus untuk tidak memendam dunia sendirian. Tulus untuk membagikan sebagian kehebatannya untukku. Dia pun tidak akan pernah merasa iri ataupun rendah hati ketika aku bisa lebih tahu dan lebih hebat dibandingkan dia. Dia adalah guruku. Pahlawan yang memberikan penerangan abadi seumur hidupku. Dan aku yakin, apa yang telah dia bagi untukku akan membawa manfaat dan kebaikan sampai aku mati nanti.
Apa yang pantas aku persembahkan untuk semua jasanya ? apa yang pantas aku banggakan untuknya ? sementara tidak banyak senyuman yang aku ukir untuk wajahnya. Tidak banyak tepukan tangan bangga darinya. Aku malu. Malu karena aku belum bisa menjadi lebih baik untuknya. Aku takut. Takut seandainya aku gagal membuatnya tidak menyesal telah menjadi guruku. Padahal jasanya sudah terlanjur benar-benar dia ukir dalam-dalam di hatiku.
Orang lain boleh menyebutnya pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi di hatiku, akan aku ukir seribu jasa untuknya yang begitu berjasa bagi kehidupanku. Akan aku hadiahkan satu kebanggaan baginya yang akan membuatnya selalu mengingatku. Orang lain boleh menyebutnya seorang pekerja biasa. Tapi bagiku, dia lebih dari sekedar seorang presiden. Akan aku buat dia merasa lebih tinggi dari presiden, dengan keberhasilanku.
Guruku, hanya terima kasih yang bisa aku persembahkan untukmu. Terima kasih karena engkau telah bersedia memperbaiki ketidak mampuanku. Terima kasih karena engkau telah mengiringi jalanku. Jika nanti aku menjadi orang berhasil, akan ku buat engkau menjadi orang yang paling bangga atas keberhasilanku.
Tuhanku, jagalah guruku. Lindungilah dia. Tanpanya, tidak akan mungkin ada orang-orang besar di negeriku ini. Tidak akan mungkin ada orang-orang penting di negeriku ini. Dan aku akan menjadi orang besar untuknya.

0 komentar: